Kenali dan Pilah Sampah Dari Rumah
Plantation Group 1 - GGF
Kehidupan kita erat kaitannya dengan berbagai kegiatan yang dilakukan dalam keseharian. Kegiatan tersebut bisa dilakukan di rumah, kantor, sekolah, tempat kerja, tempat umum atau tempat lainnya. Namun lebih banyak kegiatan yang kita lakukan di rumah. Dari kegiatan yang kita lakukan di rumah bisa menimbulkan berbagai barang sisa. Terhadap barang sisa tersebut tidak dikonsumsi lagi tapi akan dibuang. Barang sisa yang akan dibuang tersebut yang menjadi sampah.
Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Sumber sampah adalah asal timbulan sampah. Sedangkan penghasil sampah adalah setiap orang dan/atau akibat proses alam yang menghasilkan timbulan sampah (Pemerintah Republik Indonesia, 2008).
Volume sampah yang ditimbulkan sebanding dengan pertumbuhan penduduk, tingkat konsumsi, intensitas kegiatan sehari-hari, kemajuan teknologi pengemasan produk dan perubahan gaya hidup masyarakat yang cenderung memilih serba cepat dan praktis (Suandana, dkk. 2011).
Menurut sumber timbulan sampah maka sampah dapat dibedakan menjadi beberapa jenis sebagai berikut.
1. Sampah rumah tangga
Sampah rumah tangga adalah sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga yang tidak termasuk tinja dan sampah spesifik (Presiden Republik Indonesia, 2017).
2. Sampah sejenis sampah rumah tangga
Sampah sejenis sampah rumah tangga adalah sampah rumah tangga yang berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas umum, dan/atau fasilitas lainnya (Presiden Republik Indonesia, 2017).
3. Sampah spesifik
Sampah spesifik adalah sampah yang karena sifat, konsentrasi dan/atau volumenya memerlukan pengelolaan khusus karena mengandung B3 dan limbah B3
Great Giant Foods didirikan dengan maksud untuk menyatukan semua unit bisnis dalam satu tujuan terpadu untuk menyediakan makanan berkualitas tinggi, bergizi, enak rasanya, dan menjalankan pendekatan pertanian kami yang terintegrasi secara vertikal dan berkelanjutan.
PT Great Giant Pineapple,
PT Great Giant Pineapple(GGP) merupakan perusahaan yang memproduksi buah kaleng dengan produk dari nanas, jambu, pisang serta beberapa buah lainnya. Sebagai perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), GGP telah membangun pertanian terpadu dan terintegrasi di Tanggamus, Lampung dengan pengelolaan kawasan pertanian seluas 30.000 hektare (ha).
Tak hanya itu, GGP yang hadir Lampung di sejak 1979 ini juga melakukan pembinaan kepada masyarakat lokal dengan luasan pertanian mencapai 564 ha. Sebelumnya, GGP juga telah membangun industri Tapioka sejak tahun 1973.
Produk buah kaleng produk GGP sekitar 96% terserap ke pasar luar negeri dengan negara yang telah menjadi pelanggan setianya antara lain Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Timur Tengah, Asia Pasifik serta Afrika. Untuk produk buahan segar produksi GGP seperti pisang Sunpride, pisang Barangan, Jambu dengan 86 persennya mengisi pasar buah dalam negeri.
Dalam satu tahunnya GGP melakukan eksor buah kaleng ke berbagai negara sebanyak 11.000 kontainer. Produk buah kaleng produksi GGP ini telah menguasai berbagai negara, bahkan produknya paling unggul dengan kualitas nomer satu. Sebab, produk buah kaleng GGP tidak menggunakan tambahan gula, tetapi manisnya buah tersebut dari hasil proses alami buah tersebut.
Kepada tim juri TOP CSR Awards 2021, Managing Director Corporate Support GGP Djoni Wesida menjelaskan, kesuksesan GGP dalam bisnis buah kaleng di pasar luar negeri ini tidak semata sukses korporasi saja. Akan tetapi GGP turut tumbuh dan besar bersama masyarakat sekitar perkebunan yang dimiliki perusahaan, seperti di Sumatera Selatan, Blitar-Jawa Timur serta kebun di wilayah Bali.
Volume sampah banyak berasal dari sampah rumah tangga dan sampah sisa perdagangan di beberapa pasar di Provinsi Lampung. Data tersebut menunjukkan bahwa kegiatan yang dilakukan di rumah menjadi sumber sampah rumah tangga.
Timbulan sampah yang jumlahnya begitu banyak akan berdampak terhadap masyarakat, lingkungan dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sedangkan kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan yang rentan serta kapasitas TPA yang terbatas. Sehingga dibutuhkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan untuk menekan dampak dari timbulan sampah.
Pengelolaan sampah perlu dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir agar memberikan manfaat secara ekonomi, sehat bagi masyarakat, dan aman bagi lingkungan serta dapat mengubah perilaku masyarakat (Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, 2012). Seiring dengan hal tersebut Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan PT GGF sebagai Satuan Kerja yang membentuk Bank Sampah Unit (BSU) Hijau Daun Disperkimta sesuai dengan Surat Keputusan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Tentang Perubahan Pengurus Bank Sampah Hijau Daun Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan PT GGF Kabupaten Lampung Tengah. Bank Sampah Unit (BSU) Hijau Daun bekerjasama dengan Bank Sampah Induk (BSI) E-Darling Kabupaten Lampung Tengah dalam pengelolaan sampah secara komprehensif dan terpadu di lingkungan PT GGF.
1. Sampah organik
Sampah organik (degradable) adalah sampah yang bisa mengalami pelapukan (dekomposisi) dan terurai menjadi bahan yang lebih kecil dan tidak berbau.
Sampah organik dapat dibedakan menjadi dua jenis sebagai berikut (Dinas Lingkungan Hidup Prov. Lampung)
a. Sampah organik basah
Sampah organik basah adalah sampah organik yang banyak mengandung air, contohnya sisa sayur, kulit buah, buah busuk, dan ampas teh/kopi).
b. Sampah organik kering
Sampah organik kering adalah sampah organik yang sedikit mengandung air, contohnya kayu, ranting pohon, dan daun-daun kering.
2. Sampah anorganik
Sampah anorganik (undegradable) adalah sampah yang susah membusuk dan tidak dapat diuraikan kembali, namun dapat didaur ulang menjadi sesuatu yang bermanfaat. Sampah anorganik dapat dibedakan menjadi beberapa jenis sebagai berikut:
a. Sampah logam
b. Sampah plastik
c. Sampah kertas
d. Sampah kaca
e. Sampah keramik
3. Sampah residu
Sampah residu adalah segala sesuatu yang tertinggal, tersisa pada suatu kegiatan, sisa dari pengolahan sampah yang tidak mempunyai nilai ekonomis. Sampah residu contohnya sampah masker, tisu, styrofoam, popok, dan pembalut.
Dalam hal ini masyarakat perlu mengenali sejak dini sampah dari rumah agar dapat memilah sampah dari rumah secara tepat. Dengan memilah sampah secara tepat maka masyarakat ikut serta berperan aktif dalam pengelolaan sampah secara komprehensif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar